Sebelum puasa, bekali terlebih dahulu dengan ilmu tentang puasa…

Wa laa takfu maa laysa laka bihi ‘ilmun…Innassam’a wal bashara wal fu’ada kullu ulaaika kaanaa ‘anhu mas-uulaa“…”Dan janganlah kamu mengikuti apa-apa yang kamu tidak memiliki ilmu tentangnya, sesengguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawabannya (QS Al Israa 17:36). Oleh sebab itu, dalam beribadah kita dahulukan ilmu, tidak terkecuali dengan puasa. Marilah kita bekali diri kita dengan ilmu puasa sebelum kita melaksanakan puasa di dalam bulan Ramadhan yang sebentar lagi akan tiba. Marhaban yaa Ramadhan…Selamat datang Kekasihku, Ramadhan… Selamat berpuasa…..

1 Comment

Personal Picture…

rizal20isnanto3

No Comments

Pengolahan Citra… Banyak yang Hanya Tahu Aplikasinya…

Saya tanya pada beberapa mahasiswa bimbingan TA tentang konsep-konsep dasar Pengolahan Citra. Saya tanyakan ke mereka karena mereka mengambil topik-topik tentang Pengolahan Citra. Tentang bit, resolusi, warna, aras keabuan (grey level), derau (noise), deteksi tepi, penapisan, dan beberapa konsep mudah lainnya. Mereka kebingungan. Padahal, TA mereka cukup bagus… Kalau ditanya lebih rinci lagi, “Kok Anda bisa buat?”… Jawabnya beragam, karena fungsi/prosedurnya sudah ada di Matlab, saya dapat programnya dari download, dsb. Bahkan ada yang bingung saat diminta menunjukkan listing program untuk suatu operasi yang dilakukan dalam program yang mereka rancang… Telisik punya telisik ternyata mereka hanya bisa sebagian…Sebagian besar lainnya dibuatkan…

Memang betul, tidak ada larangan untuk meminta bantuan. Namun, jangan berhenti sampai di situ… Tugas Akhir Mahasiswa harus dipertahankan saat Ujian TA. Secara keilmuan, Anda ‘dianggap’ sebagai penyusun suatu karya ilmiah. Dengan demikian mahasiswa harus paham ‘jeroan’ aplikasi tersebut. Jangan hanya klak-klik saat demo program, ataupun hanya cerita panjang lebar tentang tampilan program dan cara mengoperasikan program aplikasi. Kalau hanya seperti itu, ruh dari Tugas Akhir akan sirna. Lantas apa bedanya dengan Laporan Praktikum, Manual Procedure ataupun getting started-nya sebuah HP yang baru dibeli…

Singkat kata, kalau Anda memang tidak bisa membuat program, Anda bisa pelajari bagaimana cara membaca program dan cara program bekerja… Jika Anda sudah bisa menyusun suatu laporan TA, Anda pun harus paham latar-belakang dan konsep yang mendasarinya… Jangan hanya tahu kulit…rasakan pula manisnya memahami suatu konsep dari Aplikasi tersebut…

No Comments

Mengapa Harus SP?

Setelah para mahasiswa melaksanakan ‘ritual’ rutin berupa kuliah dan ujian di semester ‘panjang’, maka pada bulan Agustus 2009 ini (sebagian) mahasiswa akan menjalani ‘ritual’ berupa Semester Pendek (semester sisipan = SP). Yang jelas SP harusnya merupakan upaya mahsiswa untuk memperbaiki nilai, tetapi bukan jaminan kalau ikut SP pasti memperoleh nilai (lebih) bagus.

Ada yang baru di SP Agustus ini, yaitu: Mahasiswa yang sebelumnya hanya punya satu ragam nilai, yaitu E pada satu Matakuliah, tidak diperkenankan mengikuti SP pada Matakuliah tersebut… Jiwanya adalah bahwa nilai gagal (yaitu E) harus mengulangi kegagalan tersebut… Namun, untuk nilai kosong (biasanya bertanda strip ‘-’) mahasiswa perlu mengkonfirmasikan ke Dosen pengampu, apakah mereka itu diberi nilai kosong karena tugas atau yang lain… Jika kurang tugas, tanyalah apakah bisa melengkapinya… Jika tidak, maka nilai kosong tersebut harus diulang di semester ‘panjang’… Logikanya, yang dapat ‘E’ saja harus mengulang di semester reguler, apalagi yang kosong ini….

By the way, selamat ber-SP……

2 Comments

KRITERIA PENILAIAN PRESTASI MAHASISWA

Ada batasan-batasan bagi Dosen Jurusan Teknik Elektro UNDIP untuk menilai prestasi mahasiswa dalam mengikuti satu perkuliahan. Beberapa di antaranya adalah:
1. Nilai akhir mencakup penilaian Tugas, Ujian Tengah Semester, dan Ujian Akhir Semester (ditambah Praktikum jika ada)
2. Prestasi mahasiswa dinyatakan secara kuantitatif kemudian dikonversi ke dalam nilai huruf A, B, C, D, atau E dengan meniadakan nilai tengah AB, BC, dan CD.
3. Prestasi mahasiswa dalam bentuk nilai huruf tersebut menunjukkan kompetensi mahasiswa pada matakuliah tersebut.

Dengan demikian, Dosen tidak diperbolehkan menilai atas dasar ‘kedekatan’ mahasiswa dengan Dosen, ataupun karena mahasiswa ikut proyek tertentu dengan Dosen, termasuk pula keikutsertaan kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler mahasiswa (basket, volley, futsal, fesbuk, dan sebagainya).

Dalam hal prosentase (bobot) tiap-tiap komponen penilaian ini tergantung pada Dosen masing-masing. Untuk matakuliah-matakuliah yang saya ampu, prosentase komponen penilaian adalah: Tugas+PR (30%); UTS (30%); dan UAS (40%)… Dan ini sudah tercantum dalam Kontrak Perkuliahan yang disetujui oleh Dosen dan Mahasiswa saat kuliah perdana.

Meskipun Dosen memiliki hak dalam memberikan nilai kepada mahasiswa, tetapi tidak berarti ‘subjektivitas’ bisa secara leluasa bermain-main dalam ranah ini. Objektivitas tetap harus dijaga. Untuk menjaga objektivitas seluruh Dosen TE, Ketua Jurusan sudah memberikan edaran tentang kisaran (range) nilai sebagai berikut.
1. A = 80 <= nilai < 100
2. B = 70 <= nilai < 80
3. C = 55 <= nilai < 70
4. D = 45 <= nilai < 55
5. E = 0 <= nilai < 45

Dulu, sebelum ada aturan kisaran nilai tersebut, ada Dosen yang pernah membuat kisaran lebih murah, misal: 60 ke atas diberi nilai A, atau nilai 10 ke bawah baru diberi nilai gagal (E)… Sekarang tidak bisa.. Segalanya perlu dilakukan untuk perbaikan, dan standardisasi mutlak dilaksanakan.

By the way, Semoga sukses untuk semua mahasiswa yang mengikuti matakuliah saya di Semester Genap 2008-2009 ini… Jika ada yang masih belum sesuai dengan harapan, berusahalah untuk lebih giat lagi di Semester yang akan datang…..

4 Comments

Selamat Wisuda bagi yang Sudah Lulus….

Sebentar lagi 17 (tujuh belas) mahasiswa program Reguler 1 (jumlah untuk wisudawan/ti Reguler 2 ada di catatan Pak Budi Setiyono) akan diwisuda… Ada Anton, Wisnu, Suharyono, Fajar Arifin, Dhany Irfandy, Diah Yuniarti, Dhika Pratikaningtyas, Adhitya Angga, Iwan Donal PM, dan lain sebagainya…. (maaf bagi yang nggak tersebut)

Jangan terlalu bergembira sehingga melupakan kewajiban setelah itu… Carilah pekerjaan, atau buatlah pekerjaan Anda sendiri. Yang tidak mau bekerja sebagai bawahan, jadilah wirausahawan/ti… Mintalah modal dari orang tua, karena saya yakin Anda belum punya modal.

Yang sudah mau maju ujian, segera laksanakan ujian Tugas Akhirnya. Masih banyak mahasiswa TA yang sudah diplot pengujinya belum mau (atau belum klop jadwalnya) maju ujian. Kalau Anda tidak punya uang untuk membeli snack untuk penguji, jangan paksakan untuk harus beli, karena memang tidak ada aturan harus ‘nyuguhi’ dewan penguji.
Jangan takut dengan ketua/sekretaris/anggota penguji yang sudah diplotkan. Semuanya baik-baik. Tidak ada dosen ‘killer‘ karena belum pernah ada kasus dosen TE membunuh mahasiswa. Kalaupun ada yang keras pada Anda, yakinkan bahwa dalam hati kecil yang paling dalam, dosen tersebut menyayangi Anda…

Bagi yang masih TA, maju terus pantang mundur… Optimalkan konsultasi dengan Pembimbing. Jika dicari tidak ada, telponlah, SMS, cari di Facebook… Siapa tahu sedang aktif… Keep contact dengan mereka…

Sukses untuk semuanya…..

No Comments

Ternyata Medan lebih Maju daripada Semarang

Ungkapan “Katak dalam Tempurung” harus segera dijauhkan dari pribadi kita semua.. . Bagaimana tidak? Orang Jawa yang tidak pernah kemana-mana akan berpikiran bahwa daerah-daerah luar Jawa ‘tidak lebih maju’ daripada daerah-daerah di Jawa.

Saat sebelum menjadi dosen, pas kerja di perusahaan swasta di Bogor, saya kost di salah satu rumah milik orang keturunan Batak (asal kotanya saya tidak tahu). Orangnya keras, wajahnya ‘keras’ juga, sama keponakannya juga ‘keras’… Banyak saudara-saudaranya juga punya watak yang sama… Dari situ, saya punya anggapan bahwa orang Batak ya begitu… Di televisi juga digambarkan stereotipe (bukan styrofoam) orang Batak juga keras, kalau bicara juga keras, bentak-bentak… Belum lagi kalau lihat di Jakarta, sopir dan kondektur buskota kebanyakan juga dari Batak… tidak kalah kerasnya.

Pikiran saya — sebelum saya ke Medan — daerah yang membentuk orang-orang seperti di atas tentunya juga keras, tidak bersahabat, dan sebagainya… Ternyata tidak, di Medan tidak (belum) saya jumpai orang-orang keras seperti yang saya jumpai di Bogor ataupun Jakarta… Daerahnya maju, banyak bangunan tinggi, bahkan ada yang sampai tingkat 18 (JW Marriot)… Pusat perekonomiannya juga lebih luas, kotanya mbulet, penuh semua dengan kendaraan dan gedung-gedung. Bahkan kantor Gubernurannya diapit oleh Mall… Jadi sekilas memang Medan tampak lebih maju daripada Semarang… Belum lagi Universitas Sumatera Utara (USU), luas juga ternyata… dengan empat pintu utama… Jalan teratur, rimbun dengan pohon-pohon rindang di pinggir jalan maupun sekitar kampus. Jadinya tidak heran jika banyak mahasiswa/dosen yang kelihatan ‘jalan-jalan’ di Kampus USU… Sementara Kampus kita di Tembalang.. masih tampak gersang… Jalan kaki dari Elektro ke Dekanat jarang dilakukan… Pilih naik motor. Alasannya? Panas dan tidak nyaman. Bahkan pernah Pak Hermawan sempat terheran-heran melihat Pak Berkah Fajar jalan kaki dari Dekanat mau ke (mungkin) Teknik Mesin…

Kesimpulannya, barangkali yang keras-keras dari orang Batak ‘dibuang’ di Jawa sehingga menjadi ‘citra’ yang tertanam pada pikiran kita, sementara yang halus-halus (terkecuali mahasiswa-mahasiswa kita: Polindo, Iwan DPM yang memang halus dan pendiam) dan yang maju-maju tetap tinggal di Medan….

Sekarang ini, saya nunggu ada tugas lain lagi di luar Jawa, yang saya belum pernah ke sana… Makassar, Balikpapan, Samarinda, Kendari, dsb…. Adakah kota-kota itu juga lebih maju daripada Semarang??

23 Comments

Ujian Akhir Semester sebentar lagi. Soal apa yang keluar ya?

Insya Allah, mulai tanggal 6 Juli besok mahasiswa sudah harus ‘bertempur’ lagi di ujian akhir semester (UAS). Banyak mahasiswa yang tidak siap menghadapi UAS. Kurang pede gitu loh… Banyak yang menebak-nebak … kira-kira soal apa yang keluar di ujian, sifatnya apa, waktunya berapa menit (ini mungkin terjadi karena mahasiswa kurang info, kurang gaul, dan sejenisnya…. Atau mungkin Bapak/Ibu Dosen mau bikin surprise agar mahasiswa kaget… Yang dikira sulit, ternyata keluar soal yang mudah (ini harapannya) atau justru kebalikannya.

Nah, untuk matakuliah-matakuliah yang saya ampu, mahasiswa tidak perlu banyak menebak, soal-soal sudah pasti (pasti sulitnya, pasti banyaknya, atau pasti nggak selesai dikerjakan?)… Nggak laahh!! Itu karena mahasiswa sudah diberikan ‘kisi-kisi’ soal UAS… Ini mungkin menyalahi adat Teknik Elektro…. Biasanya, ‘kisi-kisi’ diberikan kalau dosen-dosen ngajar di PT swasta. Ini bukan berarti menyamakan dengan mereka… Sama sekali tidak… Tujuannya tentunya adalah bahwa mahasiswa bisa enjoy saat belajar, bisa fokus, dan punya harapan memperoleh nilai yang (lebih) baik.

Bagi yang telat info, berikut sekadar kisi-kisi soal UAS, baik untuk REG 1 maupun REG 2.
1. KWU dan ETBIS: Bab XIII (Rencana Bisnis), XIV (Etika Manajemen), Etika Profesi (Bab V, VI, VII, VIII);
Sifat buku tertutup, waktu 60 menit.
2. Teori Informasi: Move-to-front-encoding; DCT dan matriks DCT; Kompresi Suara; Sekilas
tentang Data Mining; JPEG vs JPEG 2000; Transformasi Wavelet Haar; Boleh buka ringkasan
maksimum 1 lembar double folio asli, bukan fotokopi ataupun cetakan; waktu 90 menit.
3. Komunikasi Data: Ini yang paling banyak:
Materi: Chapter 2, 5, 9, 13, 14, 15, 17; ditambah dengan TCP; UDP; DNS; E-Mail; FTP; TFTP; WWW;
HTTP; dan TELNET = remote login (TErminaL NETwork); semua tentang TCP/IP (Chapter 18, 19, 20)
Sifat: buku tertutup
Soal diambil dari buku AS Godbole: True/False, Multiple Choice, dan Essay
Tugas soal-soal segera dikumpul sebelum UAS
Khusus untuk Chapter 2, 5, 18, 19, 20, bentuk soal adalah True/False dan Multiple Choice. Chapter
sisanya ada jenis essainya.

Selamat belajar, semoga sukses

5 Comments

KRITERIA MEMILIH PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN

R. Rizal Isnanto

Sebentar lagi, kita akan melaksanakan pemilihan presiden dan wakil presiden tanggal 8 Juli 2009 sebagai rangkaian dari kehidupan bernegara kita. Sebagai kaum muslimin, marilah kita gunakan hak pilih kita sebagai pertanggungjawaban kita sebagai warga negara yang ikut menentukan masa depan bangsa dan negara.
Mungkin dari kita masih ada yang skeptis, yang menyatakan bahwa saya memilih atau tidak memilih, toh sama saja bagi saya, gaji saya juga mungkin tidak akan naik. Nasib saya juga akan sama saja… Alasan seperti ini terkesan egois karena hanya memikirkan kemanfaatan bagi dirinya sendiri.

Memilih pemimpin dalam Islam merupakan hajat besar. Memilih pemimpin tidak sekadar perkara cabang dalam agama, namun bagian dari masalah prinsip. Dalam komunitas kecil saja, kita diperintahkan untuk mengangkat seseorang sebagai pemimpin, sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Tidak boleh bagi tiga orang yang berada di mana pun di bumi ini tanpa mengambil salah seorang di antara mereka sebagai amir (pemimpin)” (HR Ahmad). Sehingga, bagaimana pula untuk urusan negara… Memilih pemimpin negara untuk mengurus negeri dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia ini tentunya jauh lebih ditekankan lagi.

Terdapat beberapa kriteria untuk memilih pemimpin yang baik. Saat  ini saya akan memberikan 3 (tiga) kriteria, meskipun ada yang membuat daftar sampai dengan 9 atau 11, atau bahkan lebih. Di sini saya akan merangkumnya ke dalam tiga kriteria dasar.

Kriteria pertama, hendaklah pemimpin yang kita pilih adalah seorang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah. Orang yang seperti ini akan memiliki rasa tanggung jawab kepada Allah, dan yang demikian ini akan menjadikan dirinya orang yang berhati-hati dalam melangkah dengan mengedepankan akhlak mulia dalam setiap tutur kata dan perbuatannya. Allah swt berfirman dalam QS Al Maidah (5:57) sebagai berikut.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil Jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu Jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman”.

Jika kita bisa menemukan pemimpin seperti ini, niscaya pemimpin tersebut tidak akan pernah menggunakan hawa nafsunya dalam membuat kebijakan-kebijakan atau dalam memutuskan suatu perkara, karena dirinya selalu dibimbing oleh Al Quran. Firman Allah swt dalam QS Al Maidah (5:49) sebagai berikut.

Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), Maka ketahuilah bahwa Sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. dan Sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik”.

Dengan demikian, seorang pemimpin haruslah memutuskan suatu perkara secara adil sesuai dengan tuntunan Al Quran. Rasulullah bersabda, “Tidaklah seorang pemimpin mempunyai perkara kecuali ia akan datang dengannya pada hari kiamat dengan keadaan terikat, entah ia akan diselamatkan oleh keadilan (atas apa yang ia putuskan) atau akan dijerumuskannya (ke dalam neraka) oleh kezhalimannya.” (HR Baihaqi dari Abu Hurairah dalam Kitab Al-Kabir).

Kriteria kedua adalah bahwa pemimpin tersebut menyadari bahwa dia dipilih untuk melayani kepentingan masyarakat. “Kabiirul qaum khadiimuhum” (pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka). Pemimpin yang menyadari bahwa dirinya adalah pelayan masyarakat akan merasa bahagia jika ia mampu melayani masyarakat. Dia yakin bahwa setiap pelayanan yang baik akan berbuah kebaikan di dunia dan di akhirat bagi dirinya. Dengan demikian ia akan bersungguh-sungguh dalam melayani rakyatnya. Pemimpin yang seperti ini tidak akan menutup diri saat diperlukan rakyatnya, dan dia selalu membuka pintu untuk setiap pengaduan dan permasalahan rakyat. Rasulullah bersabda, “Tidaklah seotang pemimpin atau pemerintah yang menutup pintunya terhadap kebutuhan , hajat, dan kemiskinan, kecuali Allah akan menutup pintu langit terhadap kebutuhan, hajat, dan kemiskinannya”. (HR Ahmad dan Tirmidzi).

Kriteria ketiga adalah bahwa pemimpin tersebut haruslah amanah. Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Rasulullah saw memberitakan bahwa kerusakan akan terjadi apabila amanah disia-siakan. Lalu beliau menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan menyia-nyiakan amanah adalah bila suatu perkara diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya (Idza wusidal amru ilaa ghoiri ahlihii fantazhirissaa’ah). Apalagi masalah kepemimpinan, bila kita salah memilih orang yang tidak amanah maka kita telah ikut andil dalam menyia-nyiakan amanah, dan kita pun ikut andil dalam berbuat kerusakan.

Pemimpin yang amanah tidak akan pernah menyalahgunakan jabatannya untuk tujuan pribadi atau untuk memperkaya diri dan keluarganya lewat usaha-usaha yang tidak dibenarkan, seperti korupsi, suap, dan sebagainya. Dalam sebuah hadits dinyatakan, “Ar rosyi wal murtasyi finnaar” (Penyuap dan yang disuap ada di neraka), atau di hadits lain, “La’ana ‘llaahurrasyi wal murtasyi” (Allah melaknat penyuap dan orang yang disuap) (HR Tirmidzi dan Ibnu Majjah, dishahihkan oleh Syaikh Al Albany dalam at-Targhib wat tarhib 2/261). Untuk suap, kita merasa sudah sewajarnya bahwa itu jelas dilarang, Namun, ternyata Islam lebih jauh dibandingkan dengan itu. Ternyata pemimpin juga dilarang menerima suatu hadiah yang berkaitan dengan jabatannya. Perhatikan hadits Nabi sebagai berikut. “Al hadiyyatu ilal imaami ghuluulun” (hadiah yang diberikan kepada seorang pemimpin adalah pengkhianatan) atau “hadaayal ‘ummali ghuluulun” (hadiah-hadiah yang diberikan kepada penguasa adalah pengkhianatan”. Hal ini bisa dipahami karena jika ada rakyat yang memberikan hadiah kepada penguasa, hampir bisa dipasikan di balik itu mereka menginginkan seseatu yang lebih, dan ini lebih dekat kepada suap.

Demikian, tiga kriteria pemimpin sesuai dengan ajaran Al Quran dan sunnah. Untuk itu, memilih pemimpin yang memenuhi kriteria di atas menjadi sangat penting agar Allah melimpahi negeri kita dengan barakah. Kita dapat memanfaatkan informasi dari dialog dari televisi, radio, atau koran untuk mengetahui kualitas capres atau cawapres, yang insya Allah kesemuanya muslim. Kita juga dapat memanfaatkan informasi dari teman-teman kita ataupun kerabat yang kita percayai untuk mengetahui kredibilitas mereka. Dengan kesungguhan usaha, kita berharap semoga Allah memberi kemudahan kepada kita dalam memilih calon presiden dan wakil presiden yang terbaik. Amiin.

1 Comment

Berblangkon menunjukkan orang Jawa asli…

rizal-blangkon

Berblangkon sudah menjadi sesuatu yang non-adat… Adat bermakna kebiasaan pada suatu masyarakat tertentu. Nah sekarang, kapankah Anda lihat orang Jawa pakai blangkon… hampir-hampir tidak ada. Kalaupun di Keraton, itu pun karena harus pakai blangkon.. Jadi bukan karena kebiasaan punggawa Keraton. Kalau mereka sudah pulang ke rumah masing-masing, saya jamin mereka menanggalkan pakaian Jawa, include Blangkon.

Di sini, saya hanya mau mengatakan bahwa blangkon bukan lagi aksesoris pakaian adat Jawa…tetapi kalau orang yang (sesekali) pakai blangkon berarti dia (kemungkinan besar) orang Jawa… Di sini saya ingin menunjukkan bahwa dengan saya berblangkon kelihatan betul bahwa saya orang Jawa asli.

2 Comments