Ketika seseorang berasumsi bahwa dengan teknologi informasi yang berkembang sedemikian pesat, membuat kita lebih bisa melihat ‘dunia luar’ dengan sekedar ‘klik’ menggunakan ‘mouse’ atau dengan ujung jari saat menggunakan ponsel, ada pula kekhawatiran terhadap sisi pembatasan ruang gerak kita sendiri oleh teknologi itu sendiri. Cobalah perhatikan anak-anak yang sudah tidak berselera lagi bermain mobil-mobilan dari jeruk Bali.. Jarang anak yang bermain-main di sawah selepas panen untuk membuat rumah-rumahan dari jerami… Sulit dijumpai anak-anak bermain pedang-pedangan, ‘tulup’, ye-ye (lompat  karet)… dan sebagainya. Namun dengan mudah kita temui anak-anak yang bermain dengan dunia laptop, ponsel, PS, di ruangan ukuran 3 X 3 atau yang lebih sempit daripada itu.

Bukankah gambaran di atas menunjukkan teknologi informasi (dalam bentuk perangkat ponsel, laptop, dsb) yang awalnya dimaksudkan untuk melebarkan jangkauan pandang manusia terhadap informasi, justru teknologi tersebut telah mengurung seseorang untuk tidak beranjak dari tempat duduk, hanya untuk ‘berasyik-masyuk’ dengan si alat pintar.

Tulisan ini bukan berarti untuk menggugat keberadaan teknologi, tetapi untuk menyadarkan pada kita bahwa kita jangan sampai menjadikan teknologi sebagai segala-galanya. Jangan mengatakan “Everything is nothing without Information Technology”….

Kalau sesorang sudah mencukupkan diri dengan perangkat telekomunikasi, maka bayangkanlah saat Lebaran… (ini sudah terjadi lho!!)… Orang-orang menganggap cukup bersilaturahim lewat SMS atau per telepon. Padahal, dengan bertemu muka, melihat senyum manis saudara kita, berpelukan dengan saudara yang jarang ketemu, hati menjadi ‘plong’, lega, lepas semua masalah.

Lihat lagi, bagaimana orang kota sudah menjadi kurang peduli dengan lingkungan, tetangga, tetapi lebih peduli dengan apa yang terjadi di Gedung Putih daripada permintaan sumbangan pada Panti Asuhan…. Lebih peduli dengan nasib Manohara daripada gelandangan yang berada tidak jauh dari kita… Bukankah Gedung Putih dan Manohara yang letaknya sangat jauh itu kita ketahui informasinya lewat sebuah ‘perangkat’… Namun, kita justru tidak menggunakan perangkat kita sendiri, yaitu: mata, telinga, hati untuk melihat di sekeliling kita…. Karena sejatinya, telinga (sebagai sensor pendengaran), mata (sebagai sensor penglihatan), dan hati (sebagai sensor keimanan, perasaan, kasih-sayang, dsb) itulah yang akan dimintai pertanggungjawabannya. Allah berfirman “Innas sam’a wal bashaara wal fu’aada.. kullu ulaaika kaana ‘anhu mas’ uulaa” (QS Al Israa 17:36)… “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hatimu, semuanya akan dimintai pertanggungjawabannya…”

Intinya, janganlah Teknologi Informasi itu mengurung kita, tetapi biarlah semua perangkat tubuh kita bekerja untuk kemanfaatan sekitar… jangan teknologi itu hanya berguna untuk kita sendiri… Rasulullah bersabda “Khairunnaas anfa’uhum linnaas” (Sebaik-baik manusia adalah yang berguna bagi manusia lainnya).. Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat