Ungkapan “Katak dalam Tempurung” harus segera dijauhkan dari pribadi kita semua.. . Bagaimana tidak? Orang Jawa yang tidak pernah kemana-mana akan berpikiran bahwa daerah-daerah luar Jawa ‘tidak lebih maju’ daripada daerah-daerah di Jawa.

Saat sebelum menjadi dosen, pas kerja di perusahaan swasta di Bogor, saya kost di salah satu rumah milik orang keturunan Batak (asal kotanya saya tidak tahu). Orangnya keras, wajahnya ‘keras’ juga, sama keponakannya juga ‘keras’… Banyak saudara-saudaranya juga punya watak yang sama… Dari situ, saya punya anggapan bahwa orang Batak ya begitu… Di televisi juga digambarkan stereotipe (bukan styrofoam) orang Batak juga keras, kalau bicara juga keras, bentak-bentak… Belum lagi kalau lihat di Jakarta, sopir dan kondektur buskota kebanyakan juga dari Batak… tidak kalah kerasnya.

Pikiran saya — sebelum saya ke Medan — daerah yang membentuk orang-orang seperti di atas tentunya juga keras, tidak bersahabat, dan sebagainya… Ternyata tidak, di Medan tidak (belum) saya jumpai orang-orang keras seperti yang saya jumpai di Bogor ataupun Jakarta… Daerahnya maju, banyak bangunan tinggi, bahkan ada yang sampai tingkat 18 (JW Marriot)… Pusat perekonomiannya juga lebih luas, kotanya mbulet, penuh semua dengan kendaraan dan gedung-gedung. Bahkan kantor Gubernurannya diapit oleh Mall… Jadi sekilas memang Medan tampak lebih maju daripada Semarang… Belum lagi Universitas Sumatera Utara (USU), luas juga ternyata… dengan empat pintu utama… Jalan teratur, rimbun dengan pohon-pohon rindang di pinggir jalan maupun sekitar kampus. Jadinya tidak heran jika banyak mahasiswa/dosen yang kelihatan ‘jalan-jalan’ di Kampus USU… Sementara Kampus kita di Tembalang.. masih tampak gersang… Jalan kaki dari Elektro ke Dekanat jarang dilakukan… Pilih naik motor. Alasannya? Panas dan tidak nyaman. Bahkan pernah Pak Hermawan sempat terheran-heran melihat Pak Berkah Fajar jalan kaki dari Dekanat mau ke (mungkin) Teknik Mesin…

Kesimpulannya, barangkali yang keras-keras dari orang Batak ‘dibuang’ di Jawa sehingga menjadi ‘citra’ yang tertanam pada pikiran kita, sementara yang halus-halus (terkecuali mahasiswa-mahasiswa kita: Polindo, Iwan DPM yang memang halus dan pendiam) dan yang maju-maju tetap tinggal di Medan….

Sekarang ini, saya nunggu ada tugas lain lagi di luar Jawa, yang saya belum pernah ke sana… Makassar, Balikpapan, Samarinda, Kendari, dsb…. Adakah kota-kota itu juga lebih maju daripada Semarang??