Dr. R. Rizal Isnanto, S.T., M.M., M.T

Computer Engineering, Diponegoro University

Browsing Posts published by Dr. R. Rizal Isnanto, S.T., M.M., M.T

R. Rizal Isnanto

Sebentar lagi, kita akan melaksanakan pemilihan presiden dan wakil presiden tanggal 8 Juli 2009 sebagai rangkaian dari kehidupan bernegara kita. Sebagai kaum muslimin, marilah kita gunakan hak pilih kita sebagai pertanggungjawaban kita sebagai warga negara yang ikut menentukan masa depan bangsa dan negara.
Mungkin dari kita masih ada yang skeptis, yang menyatakan bahwa saya memilih atau tidak memilih, toh sama saja bagi saya, gaji saya juga mungkin tidak akan naik. Nasib saya juga akan sama saja… Alasan seperti ini terkesan egois karena hanya memikirkan kemanfaatan bagi dirinya sendiri.

Memilih pemimpin dalam Islam merupakan hajat besar. Memilih pemimpin tidak sekadar perkara cabang dalam agama, namun bagian dari masalah prinsip. Dalam komunitas kecil saja, kita diperintahkan untuk mengangkat seseorang sebagai pemimpin, sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Tidak boleh bagi tiga orang yang berada di mana pun di bumi ini tanpa mengambil salah seorang di antara mereka sebagai amir (pemimpin)” (HR Ahmad). Sehingga, bagaimana pula untuk urusan negara… Memilih pemimpin negara untuk mengurus negeri dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia ini tentunya jauh lebih ditekankan lagi.

Terdapat beberapa kriteria untuk memilih pemimpin yang baik. Saat  ini saya akan memberikan 3 (tiga) kriteria, meskipun ada yang membuat daftar sampai dengan 9 atau 11, atau bahkan lebih. Di sini saya akan merangkumnya ke dalam tiga kriteria dasar.

Kriteria pertama, hendaklah pemimpin yang kita pilih adalah seorang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah. Orang yang seperti ini akan memiliki rasa tanggung jawab kepada Allah, dan yang demikian ini akan menjadikan dirinya orang yang berhati-hati dalam melangkah dengan mengedepankan akhlak mulia dalam setiap tutur kata dan perbuatannya. Allah swt berfirman dalam QS Al Maidah (5:57) sebagai berikut.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil Jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu Jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman”.

Jika kita bisa menemukan pemimpin seperti ini, niscaya pemimpin tersebut tidak akan pernah menggunakan hawa nafsunya dalam membuat kebijakan-kebijakan atau dalam memutuskan suatu perkara, karena dirinya selalu dibimbing oleh Al Quran. Firman Allah swt dalam QS Al Maidah (5:49) sebagai berikut.

Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), Maka ketahuilah bahwa Sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. dan Sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik”.

Dengan demikian, seorang pemimpin haruslah memutuskan suatu perkara secara adil sesuai dengan tuntunan Al Quran. Rasulullah bersabda, “Tidaklah seorang pemimpin mempunyai perkara kecuali ia akan datang dengannya pada hari kiamat dengan keadaan terikat, entah ia akan diselamatkan oleh keadilan (atas apa yang ia putuskan) atau akan dijerumuskannya (ke dalam neraka) oleh kezhalimannya.” (HR Baihaqi dari Abu Hurairah dalam Kitab Al-Kabir).

Kriteria kedua adalah bahwa pemimpin tersebut menyadari bahwa dia dipilih untuk melayani kepentingan masyarakat. “Kabiirul qaum khadiimuhum” (pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka). Pemimpin yang menyadari bahwa dirinya adalah pelayan masyarakat akan merasa bahagia jika ia mampu melayani masyarakat. Dia yakin bahwa setiap pelayanan yang baik akan berbuah kebaikan di dunia dan di akhirat bagi dirinya. Dengan demikian ia akan bersungguh-sungguh dalam melayani rakyatnya. Pemimpin yang seperti ini tidak akan menutup diri saat diperlukan rakyatnya, dan dia selalu membuka pintu untuk setiap pengaduan dan permasalahan rakyat. Rasulullah bersabda, “Tidaklah seotang pemimpin atau pemerintah yang menutup pintunya terhadap kebutuhan , hajat, dan kemiskinan, kecuali Allah akan menutup pintu langit terhadap kebutuhan, hajat, dan kemiskinannya”. (HR Ahmad dan Tirmidzi).

Kriteria ketiga adalah bahwa pemimpin tersebut haruslah amanah. Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Rasulullah saw memberitakan bahwa kerusakan akan terjadi apabila amanah disia-siakan. Lalu beliau menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan menyia-nyiakan amanah adalah bila suatu perkara diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya (Idza wusidal amru ilaa ghoiri ahlihii fantazhirissaa’ah). Apalagi masalah kepemimpinan, bila kita salah memilih orang yang tidak amanah maka kita telah ikut andil dalam menyia-nyiakan amanah, dan kita pun ikut andil dalam berbuat kerusakan.

Pemimpin yang amanah tidak akan pernah menyalahgunakan jabatannya untuk tujuan pribadi atau untuk memperkaya diri dan keluarganya lewat usaha-usaha yang tidak dibenarkan, seperti korupsi, suap, dan sebagainya. Dalam sebuah hadits dinyatakan, “Ar rosyi wal murtasyi finnaar” (Penyuap dan yang disuap ada di neraka), atau di hadits lain, “La’ana ‘llaahurrasyi wal murtasyi” (Allah melaknat penyuap dan orang yang disuap) (HR Tirmidzi dan Ibnu Majjah, dishahihkan oleh Syaikh Al Albany dalam at-Targhib wat tarhib 2/261). Untuk suap, kita merasa sudah sewajarnya bahwa itu jelas dilarang, Namun, ternyata Islam lebih jauh dibandingkan dengan itu. Ternyata pemimpin juga dilarang menerima suatu hadiah yang berkaitan dengan jabatannya. Perhatikan hadits Nabi sebagai berikut. “Al hadiyyatu ilal imaami ghuluulun” (hadiah yang diberikan kepada seorang pemimpin adalah pengkhianatan) atau “hadaayal ‘ummali ghuluulun” (hadiah-hadiah yang diberikan kepada penguasa adalah pengkhianatan”. Hal ini bisa dipahami karena jika ada rakyat yang memberikan hadiah kepada penguasa, hampir bisa dipasikan di balik itu mereka menginginkan seseatu yang lebih, dan ini lebih dekat kepada suap.

Demikian, tiga kriteria pemimpin sesuai dengan ajaran Al Quran dan sunnah. Untuk itu, memilih pemimpin yang memenuhi kriteria di atas menjadi sangat penting agar Allah melimpahi negeri kita dengan barakah. Kita dapat memanfaatkan informasi dari dialog dari televisi, radio, atau koran untuk mengetahui kualitas capres atau cawapres, yang insya Allah kesemuanya muslim. Kita juga dapat memanfaatkan informasi dari teman-teman kita ataupun kerabat yang kita percayai untuk mengetahui kredibilitas mereka. Dengan kesungguhan usaha, kita berharap semoga Allah memberi kemudahan kepada kita dalam memilih calon presiden dan wakil presiden yang terbaik. Amiin.

rizal-blangkon

Berblangkon sudah menjadi sesuatu yang non-adat… Adat bermakna kebiasaan pada suatu masyarakat tertentu. Nah sekarang, kapankah Anda lihat orang Jawa pakai blangkon… hampir-hampir tidak ada. Kalaupun di Keraton, itu pun karena harus pakai blangkon.. Jadi bukan karena kebiasaan punggawa Keraton. Kalau mereka sudah pulang ke rumah masing-masing, saya jamin mereka menanggalkan pakaian Jawa, include Blangkon.

Di sini, saya hanya mau mengatakan bahwa blangkon bukan lagi aksesoris pakaian adat Jawa…tetapi kalau orang yang (sesekali) pakai blangkon berarti dia (kemungkinan besar) orang Jawa… Di sini saya ingin menunjukkan bahwa dengan saya berblangkon kelihatan betul bahwa saya orang Jawa asli.

Ketika seseorang berasumsi bahwa dengan teknologi informasi yang berkembang sedemikian pesat, membuat kita lebih bisa melihat ‘dunia luar’ dengan sekedar ‘klik’ menggunakan ‘mouse’ atau dengan ujung jari saat menggunakan ponsel, ada pula kekhawatiran terhadap sisi pembatasan ruang gerak kita sendiri oleh teknologi itu sendiri. Cobalah perhatikan anak-anak yang sudah tidak berselera lagi bermain mobil-mobilan dari jeruk Bali.. Jarang anak yang bermain-main di sawah selepas panen untuk membuat rumah-rumahan dari jerami… Sulit dijumpai anak-anak bermain pedang-pedangan, ‘tulup’, ye-ye (lompat  karet)… dan sebagainya. Namun dengan mudah kita temui anak-anak yang bermain dengan dunia laptop, ponsel, PS, di ruangan ukuran 3 X 3 atau yang lebih sempit daripada itu.

Bukankah gambaran di atas menunjukkan teknologi informasi (dalam bentuk perangkat ponsel, laptop, dsb) yang awalnya dimaksudkan untuk melebarkan jangkauan pandang manusia terhadap informasi, justru teknologi tersebut telah mengurung seseorang untuk tidak beranjak dari tempat duduk, hanya untuk ‘berasyik-masyuk’ dengan si alat pintar.

Tulisan ini bukan berarti untuk menggugat keberadaan teknologi, tetapi untuk menyadarkan pada kita bahwa kita jangan sampai menjadikan teknologi sebagai segala-galanya. Jangan mengatakan “Everything is nothing without Information Technology”….

Kalau sesorang sudah mencukupkan diri dengan perangkat telekomunikasi, maka bayangkanlah saat Lebaran… (ini sudah terjadi lho!!)… Orang-orang menganggap cukup bersilaturahim lewat SMS atau per telepon. Padahal, dengan bertemu muka, melihat senyum manis saudara kita, berpelukan dengan saudara yang jarang ketemu, hati menjadi ‘plong’, lega, lepas semua masalah.

Lihat lagi, bagaimana orang kota sudah menjadi kurang peduli dengan lingkungan, tetangga, tetapi lebih peduli dengan apa yang terjadi di Gedung Putih daripada permintaan sumbangan pada Panti Asuhan…. Lebih peduli dengan nasib Manohara daripada gelandangan yang berada tidak jauh dari kita… Bukankah Gedung Putih dan Manohara yang letaknya sangat jauh itu kita ketahui informasinya lewat sebuah ‘perangkat’… Namun, kita justru tidak menggunakan perangkat kita sendiri, yaitu: mata, telinga, hati untuk melihat di sekeliling kita…. Karena sejatinya, telinga (sebagai sensor pendengaran), mata (sebagai sensor penglihatan), dan hati (sebagai sensor keimanan, perasaan, kasih-sayang, dsb) itulah yang akan dimintai pertanggungjawabannya. Allah berfirman “Innas sam’a wal bashaara wal fu’aada.. kullu ulaaika kaana ‘anhu mas’ uulaa” (QS Al Israa 17:36)… “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hatimu, semuanya akan dimintai pertanggungjawabannya…”

Intinya, janganlah Teknologi Informasi itu mengurung kita, tetapi biarlah semua perangkat tubuh kita bekerja untuk kemanfaatan sekitar… jangan teknologi itu hanya berguna untuk kita sendiri… Rasulullah bersabda “Khairunnaas anfa’uhum linnaas” (Sebaik-baik manusia adalah yang berguna bagi manusia lainnya).. Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat

Welcome to Wketok-gedheeb Blog undip.

Skip to toolbar